Senin, 06 Desember 2010


Menatap langit berharap mendapat serpihan jawaban yang menjanggalkan hati..

Sungguh terasa menyiksa jiwa ketika ku akhirnya terperangkap karna kebodohanku sendiri..

Kata desiran angin, Cobalah menatap ke dalam hatimu..Semua kemenangan terbungkus di dalamnya..


Sudah! Aku sudah menatapnya.. Tetapi tidak kutemukan sebuah jawaban..

Yang ada kepenatanku bertambah..

Bahkan rasanya gelora amarah ini terasa meluap luap..

mencoba menahan bahkan meperburuk rasa yang tertahan itu..

Kegelisahan mulai mencakup seluruh isi pikiran..

Entah mengapa..

Tetapi kemudian sang desiran menegaskan lagi..

Untuk apa membenarkan sebuah pembenaran kalau itu bukan sebuah kebenaran yang kau cari..

Ya Bunda Semesta..

Aku mungkin masih terlalu kotor..


atau lebih memungkinkan kita masih bagaikan minyak dan air..

Tapi bagaimana pun ku berharap ada seberkas sinar yang menetes ke dalam dahiku tuk menerangi perjalanan selanjutnya yang entah akan kapan bertepinya..

Bertepi menuju samudera kasih dengan kehangatan beningnya cinta itu..

Oh Bunda Semesta..

Aku mencintaiMu dan berharap bisa bertepi dalam rute perjalanan kali ini..

Ingin sekali menyatu dalam bagianMu..

Oh Bunda Semesta..

Aku akan mendayung dengan penuh kesabaran..Mungkin itulah yang kuperlukan............


Aku menantiMu Sang kekasihKu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar